Tampilkan postingan dengan label Alquran. Tampilkan semua postingan

Renungan Surat Al-Kahfi (Bagian III)


Renungan Surat al-Kahfi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengupas berbagai pelajaran berharga dari surat al-Kahfi. Kita akan kembali melanjutkan beberapa pelajaran penting yang bisa kita gali dari surat al-Kahfi,

Pertama, kuasa Allah untuk menidurkan manusia selama 309 tahun, tanpa makan, tanpa minum, namun mereka bangun tetap dalam kondisi sehat bugar, dan tidak berubah raut mukanya. Semacam ini tidak perlu dibenturkan dengan ilmu kedokteran. Karena di luar kapasitas manusia.

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”

Catatan:
Dalam ayat dinyatakan: 300 + 9 tahun. Sebagian orang membuat perhitungan bahwa setiap perhitungan 300 tahun masehi sama dengan 309 tahun hijriyah. Atau dalam satu tahun masehi sama dengan 1 tahun hijriyah + 11 hari.

Kedua, mengembalikan pengetahuan hanya kepada Allah. Ini diantara adab yang Allah ajarkan ketika seseorang membicarakan sesuatu terkait masa silam atau terkait ajaran syariat. Tidak lupa mengucapkan ‘Allahu a’lam’. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang untuk bertanya masalah ashabul kahfi kepada orang yahudi, Allah berikan wahyu kepada beliau, sebagian cerita tentang ashabul kahfi. Kemudian Allah perintahkan beliau untuk mengembalikan pengetahuan masalah ghaib itu kepada Allah semata.

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِع

Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); Hanya milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya;

Ketiga, membaca al-Quran yang sempurna adalah dengan memahami makna dan mengikuti isinya. Dan itulah makna tilawah al-Quran

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran).

Jika makna membaca hanya diartikan membaca dengan lisan, tanpa ada respon, tentu perintah ini tidak ada manfaatnya.

Keempat, berkawan dengan orang baik, butuh kesabaran

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ

“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya …”

Kelima, setiap manusia butuh komunitas yang baik, sekalipun dia manusia paling sempurna. Karena komunitas baik akan menjadi proteksi bagi lahir dan batin orang yang beriman.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya..”

Allah perintahkan Nabi-Nya – manusia paling mulia – untuk bersabar bersama orang yang mengisi hidupnya dengan ketaatan.

Catatan :
Pagi dan sore adalah waktu yang istimewa untuk berdzikir
Dalam al-Quran, Allah sering kali menyebut orang yang berdzikir di waktu pagi dan sore, beribadah ketika pagi dan sore, dst.
Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَلأَنْ أَقْعُدَ غُدْوَةً إِلَى أَنْ تُشْرِقَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَ رِقَابٍ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَ رِقَابٍ

Aku duduk berdzikir setelah subuh hingga terbit matahari, lebih aku sukai dari pada membebaskan 4 budak. Dan berdzikir setelah asar sampai terbenam matahari, lebih aku sukai dari pada membebaskan 4 budak. (HR. Ahmad 22914, dan para perawinya dinilai Tsiqah).

Keenam, Diantara manfaat besar ketika berkumpul dengan komunitas orang baik,

1. Mengurangi rasa tamak terhadap dunia dan mengingatkan akan akhirat

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini;

2. Memutus peluang untuk mengikuti para ahli maksiat atau penganut kesesatan

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya..”

Ketujuh, orang yang jauh dari peringatan Allah, pasti menjadi budak hawa nafsunya

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya..”

Kedelapan, kebenaran dan kesesatan telah jelas. Sehingga manusia bisa berfikir, di posisi mana dia harus memilih. Yang semua itu akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka

Catatan:
Ayat ini sama sekali bukan dalil tentang kebebasan beragama, sebagaimana anggapan JIL. Dengan alasan,
1. Ayat di atas hanya mengembalikan pilihan antara: beriman dan kafir. Sementara tidak ada satupun agama yang bersedia disebut kafir, meskipun hakekatnya kafir.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”
2. Adanya ancaman neraka di lanjutan ayat,

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.”
3. Siapapun yang memilih selain islam, dia kafir dan berhak mendapat ancaman itu.

Kesembilan, iman seringkali digandegkan dengan amal soleh

Karena iman mewakili syahadat laa ilaaha illallah, sementara amal soleh mewakili syahadat Muhammad Rasulullah. Karena itu, satu amal tidak bisa disebut soleh, kecuali jika sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala mereka.

Kesepuluh, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba dan jaminan pahala dari Allah bagi orang yanng beramal kebaikan.

إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا ( ) أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ

Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. ( ) Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn (kekal).

Demikian, Allahu a’lam

Bersambung insyaaAllah..

Baca sebelumnya:

Renungan Surat al-Kahfi (Bagian II)


Renungan Surat al-Kahfi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada kajian sebelumnya kita telah mengupas berbagai pelajaran berharga dari surat al-Kahfi. Kita akan kembali melanjutkan beberapa pelajaran penting lainnya, yang bisa kitagali dari surat al-Kahfi,

Pertama, semangat orang kafir untuk memurtadkan orang beriman, sekalipun melalui cara kekerasan.

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

Sesungguhnya mereka jika berhasil menangkap kalian, mereka akan merajam kalian atau mengembalikan kalian ke agama mereka, dan kalian tidak akan beruntung selamanya.

Kedua, keputusan raja dan penguasa, tidak bisa jadi dalil sebuah kebenaran. Termasuk adanya bangunan di kuburan orang shaleh.

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

Demikianlah kami pertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.

Setelah ashabul kahfi dibangunkan oleh Allah, keadaan mereka diketahui masyarakat sekitar. Hingga akhirnya penguasa mereka bermaksud mendirikan masjid di gua itu untuk mengenang kehebatan ashabul kahfi. Dan peristiwa ini bukan dalil anjuran membangun masjid di kuburan.

Ketiga, berbicara masalah ghaib tanpa dalil termasuk perbuatan tercela. Allah menyebutnya ‘rajman bil ghaib’ (nebak-nebak yang ghaib).

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, menebak yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”

Keempat, al-Quran bercerita tantang kejadian masa silam agar generasi selanjutnya mengambil pelajaran dariya. Karena itu, bagian yang tidak penting, tidak disebutkan al-Quran. Allah tidak menyebutkan berapa jumlah yang pasti untuk ashabul kahfi, siapa nama mereka, dst.

Kelima, dalam kasus yang kita tidak memiliki sumber kebenarannya, tidak selayaknya diperdebatkan dengan serius. Perdebatan hanya dilakukan di permukaan (mira’ dzahir), tidak sampai dimasukkan ke dalam hati.

قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا

Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja…

Keenam, larangan untuk bertanya kepada orang yang tidak layak dimintai fatwa. Allah melarang Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada orang yahudi tentang ashabul kahfi, karena mereka tidak memiliki ilmu yang detail tentangnya.

وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

Jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

As-Sa’di menyebutkan, dua jenis manusia yang tidak layak dimintai fatwa,

  1. Orang yang memiliki keterbatasan pengetahuan apa yang difatwakan
  2. Orang yang kurang peduli dengan apa yang dia ucapkan, tidak memiliki rasa takut terhadap konsekuensi buruk fatwa.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 473)

Ketujuh, Allah melarang Nabi-Nya untuk menyampaikan rencana ke depan, tanpa digandengkan dengan kehendak Allah. Jika nabi dilarang, tentu umatnya juga lebih dilarang. Karena itu, ayat yang berisi perintah dan larangan untuk nabi, juga beraku untuk seluruh umatnya.

Kedelapan, mengembalikan suatu rencana kepada kehendak Allah, maka rencana itu akan dimudahkan, diberkahi, dan diberi pertolongan oleh Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا ( ) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, ( ) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.

Kesembilan, perintah untuk mengingat Allah ketika lupa.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

“Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…”

Ulama berbeda pendapat tentang makna kata ‘lupa’ dalam ayat ini,
  1. Lupa mengucapkan insyaaAllah ketika mengucapkan rencana, sekalipun menyampaikan rencana itu dilakukan kemarin atau bahkan jauh sebelum itu. (pendapat mayoritas ulama)
  2. Ingatlah Allah ketika engkau marah. (pendapat Ikrimah)
  3. Ingatlah Allah ketika melakukan maksiat. Karena maksiat termasuk lupa. (pendapat Ikrimah)
  4. Ingatlah Allah ketika lupa apapun, agar Allah mengingatkan kamu dari apa yang terlupakan. (pedapat al-Mawardi)

Kesepuluh, hikmah mengucapkan insyaaAllah ketika mengungkapkan rencana, agar kita tidak termasuk berdusta ketika rencana itu gagal. Kita juga dianjurkan mengucapkan isyaaAllah, ketika bertekad untuk berusaha memiliki karakter yang baik.

Nabi Musa menyatakan di haapan Khidr,

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

Kesebelas, perintah untuk selalu memohon hidayah,

وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

Dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.”

Karena itulah, kita diwajibkan untuk selalu memohon hidayah dalam setiap shalat, melalui bacaan surat al-Fatihah.

Allahu a’lam

insyaaAllah bersambung.. 
Baca artikel sebelumnya: Renungan Surat al-Kahfi (Bagian I)

Renungan Surat Al-Kahfi (Bagian I)


Renungan Surat al-Kahfi


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,


Setiap jumat, kita dianjurkan membaca surat al-Kahfi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan, orang yang membacanya akan mendapatkan cahaya. Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (HR. ad-Darimi 3470 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, 6471)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Hakim 6169, Baihaqi 635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 6470)

Bahkan, karena kuatnya pengaruh cahaya yang Allah berikan, orang yang memperhatikan surat al-Kahfi, akan dilindungi dari fitnah Dajjal. Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Siapa yang menghafal 10 ayat pertama surat al-Kahfi maka dia akan dilindungi dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim 1919, Abu Daud 4325, dan yang lainnya)

Surat Pelindung Fitnah

Jika orang yang merenungi surat al-Kahfi terlindung dari fitnah Dajjal – sementara itu salah satu fitnah terbesar – maka berpeluang besar bagi orang yang memahaminya untuk terlindung dari fitnah (ujian) lainnya.

Dalam surat al-Kahfi, terdapat 4 kisah, yang semuanya memberikan pelajaran kita sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai macam fitnah (ujian).
  1. Kisah ashabul kahfi yang lari meninggalkan kampung halamannya dalam rangka menjaga imannya. (ujian karena agama)
  2. Kisah shohibul jannatain (pemilik dua kebun), yang kufur kepada Tuhannya karena silau dengan dunianya. (fitnah harta)
  3. Kisah Musa dengan Khidr. Musa diperintahkan untuk belajar kepada Khidr, sekalipun beliau seorang nabi yang memiliki Taurat. Karena di atas orang yang berilmu, ada yang lebih berilmu. (ujian karena ilmu)
  4. Kisah Dzulqarnain. Seorang raja penguasa hampir semua permukaan dunia. Kekuasaannya membentang dari ujung timur hingga ujung barat. Namun beliau jadikan kekuasaannya untuk menegakkan keadilan dan syariat bagi seluruh manusia. (fitnah kekuatan dan kekuasaan)

Surat Peneguh Hati

Mayoritas ulama mengatakan, surat al-Kahfi Allah turunkan sebelum hijrah. Sehingga surat ini digolongkan sebagai surat Makiyah. Tepatnya, surat ini diturunkan menjelang hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Seolah surat ini menjadi mukadimah, untuk perjuangan besar bagi kaum muslimin, hijrah meninggalkan kampung halamannya, berikut harta dan keluarganya.

Tentu saja, butuh perjuangan yang tidak ringan. Mereka harus siap dengan segala resiko, ketika mereka pindah ke Madinah. Semuanya serba menjadi taruhan. Mempertaruhkan hartanya untuk ditinggal di Mekah. Mempertaruhkan hubunngan keluarganya karena harus pisah di dua negeri yang berbeda. Mempertaruhkan keselamatan jiwa sesampainya di Madinah, yang masih harus bersaing dengan yahudi di sekitarnya.

Allah kuatkan hati mereka dengan kisah:
  1. Ashabul kahfi, mengajarkan bahwa manusia harus mempertahankan agamanya, sekalipun dia harus terusir dari kampung halamannya.
  2. Cerita Shohibul Jannatain (pemilik kebun), mengajarkan agar manusia tidak silau dengan harta, sehingga lebih memilih dunia dan meninggalkan agamanya.
  3. Kisah Musa & Khidir, bahwa orang harus mendatangi sumber ilmu dan hidayah, dimanapun dia berada.
  4. Kisah Dzulqarnain, bahwa bumi ini akan Allah wariskan kepada siapapun yang Allah kehendaki diantara hamba-Nya.

Demikian istimewanya surat ini, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jadikan sebagai sumber cahaya bagi manusia. Sehingga mereka terhindari dari fitnah Dajjal, fitnah dunia, dan agama. Tentu saja, ini bagi mereka yang berusaha merenungi kandungan isi dan maknanya.

Berikut, kita akan mengkaji beberapa renungan terhadap kandungan surat al-Kahfi,

Pertama, surat ini diawali dengan menetapkan segala pujian untuk Allah. Dan dalam al-Quran, terdapat 5 surat yang diawali dengan bacaan hamdalah: al-Fatihah, al-An’am, al-Kahfi, Saba’, dan Fathir.

Kita memuji Allah dalam semua keadaan, sekalipun makhluknya sedang mendapatkan ujian dan musibah.

Kedua, bahwa al-Quran adalah sumber ilmu yang lurus tanpa ada sedikitpun yang bengkok.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ( ) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; ( ) sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh

Ketiga, segala kenikmatan dunia hanya hiasan, dalam menguji manusia, siapakah diantara mereka yang tetap berusaha beribadah dan tidak tertipu dengannya.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Keempat, dai yang ikhlas, bisa saja mendapatkan tekanan batin karena beban berat dakwah. Tak terkecuali, inipun dialami manusia terbaik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آَثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka (orang kafir) berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Quran).

Kelima, manusia harus berusaha menyelamatkan agama dan aqidahnya, sekalipun dia harus terusir dari negerinya. Bahkan sekalipun dia harus tinggal di gua dengan segala keterbatasannya.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا ( ) إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? ( ) (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”

Keenam, Allah akan memberi tambahan dan kekuatan hidayah bagi orang yanng komitmen dengan kebenaran dan berani menampakkan

وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

Ketujuh, meninggalkan kemaksiatan belum dinilai sempurna hingga dia meninggalkan pelakunya,

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ

Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu

Kedelapan, orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Asahbul kahfi meninggalkan kehangatan kampung halamannya dan keluarganya, Allah ganti dengan kehangatan hidayah dan rahmat dari-Nya.

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا

Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Kesembilan, Allah jaga hamba-Nya yang sholeh, meskipun mereka sedang istirahat. Ashabul kahfi dijaga oleh Allah, sekalipun mereka sedang istirahat di gua. Sehingga tidak ada satupun makhuk yang berani mengganggu maupun membangunkan mereka.

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari merekadengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.

Kesepuluh, tawakkal yang sejati, adalah pasrah kepada Allah setelah berusaha mengambil sebab. Ashabul kahfi membawa uang untuk bekal mereka ketika mereka pergi meninggalkan kampungnya.

قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu

Allahu a’lam

Bersambung, insyaaAllah…
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Makna Ulul Albab dalam al-Qur’an


Ulul Albab

Apa makna Ulul Albab dan Siapakah mereka?

Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kata ulul albab terdiri dari kata ulu [أولو] dan al-albab [الألباب].

Kata ulu [أولو] adalah bentuk jamak – yang tidak memiliki mufrad (kata tunggal) –, artinya ashab (pemilik). Dan kata ulu dalam penggunaannya dijadikan frase dengan isim dzahir (kata benda selain kata ganti). Seperti Ulu al-Quwwah [أولو القوة] artinya pemilik kekuatan, Ulu al-Maal [أولو المال] artinya pemilik harta, dst. Ditulis dengan ada huruf wawu yang pertama [أولو], namun tidak dibaca.

Kata yang kedua adalah kata al-Albab [الألباب]. Kata ini adalah bentuk jamak, dan memiliki 2 kata mufrad (kata tunggal)

[1] Mufradnya adalah kata al-Labab [اللَّبَبُ] yang artinya bagian dada binatang yang diikat tali agar pelana tidak lepas.

[2] Mufradnya adalah kata al-Lubb [اللُّبُّ] yang artinya inti dari segala sesuatu.

Kata lubbur rajul [لُبُّ الرَّجُل] artinya akal seseorang. Karena inti manusia adalah akalnya.

(Lisanul Arab, Ibnul Mandzur).

Dalam al-Quran, kata Ulul Albab diterjemahkan dengan orang yang berakal.

Kaitannya penggunaan kata ini dengan makna bahasa, orang yang berakal disebut ulul albab, karena mereka adalah orang yang menggunakan akalnya dan akal adalah yang menjadi pengikat bagi manusia agar dia tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan atau tindakan memalukan.

Siapakah Ulul Albab?

Ayat pertama yang menyebutkan kata ulul albab adalah firman Allah di surat al-Baqarah: 179.

Allah berfirman,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

Imam as-Sa’di – rahimahullah – menjelaskan tafsir ayat ini,

ولما كان هذا الحكم، لا يعرف حقيقته، إلا أهل العقول الكاملة والألباب الثقيلة، خصهم بالخطاب دون غيرهم، وهذا يدل على أن الله تعالى، يحب من عباده، أن يعملوا أفكارهم وعقولهم، في تدبر ما في أحكامه من الحكم، والمصالح الدالة على كماله، وكمال حكمته وحمده، وعدله ورحمته الواسعة، وأن من كان بهذه المثابة فقد استحق المدح بأنه من ذوي الألباب


Mengingat hukum ini – qishas – tidak diketahui hakekatnya kecuali orang yang memiliki akal sempurna dan logika yang sehat, Allah mengarahkan ayat ini kepada mereka dan bukan manusia secara umum. Dan ini menunjukkan bahwa Allah memotivasi para hambanya, agar mereka menggunakan pikiran dan akal mereka untuk merenungkan hukum-hukumnya, kemaslahatan hukum yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan pujian-Nya, keadilan dan Rahmat-Nya yang luas. Dan orang yang memiliki kedudukan semacam ini, dia berhak mendapatkan pujian dan itulah pemilik al-Albab. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 84).

Kata Ulul Albab atau Ulil Albab disebutkan oleh Allah sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an. Dan jika kita perhatikan penggunaan kata ini dalam al-Qur’an, kita bisa menyimpulkan, hakekat ulul albab adalah orang yang menggunakan akalnya untuk mengenal siapakah Allah, bagaimana keagungan-Nya, bagaimana kebijaksanaan-Nya, keadilan-Nya, dengan melihat ayat-ayat Allah. Baik ayat kauniyah (ciptaan-Nya) maupun ayat Syar’iyah (hukum Allah). Sehingga dia akan semakin tunduk dan taat kepada Allah.

Sementara orang yang menggunakan logikanya untuk mengakali syariat, yang justru membuat dia semakin jauh dari aturan, semakin liberal, mereka bukan ulul albab. Karena ada yang cacat pada logikanya.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Siapa itu Sabi’in yang Sering Disebutkan Dalam Al-Quran?



Siapa itu Sabi’in?

Siapa itu shabi’in? mohon penjelasan.. mengapa mereka bisa masuk surga, sementara orang musyrik tidak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam al-Quran, kata shabi’in disebutkan 3 kali:

[1] Firman Allah di surat al-Baqarah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 62)

[2] Firman Allah di surat al-Maidah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Maidah: 69)

[3] Firman Allah di surat al-Hajj:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Hajj: 17)

Makna Shabiin

Secara bahasa, kata Shabiin [الصَّابِئِينَ] merupakan bentuk jamak. Kata tunggal (mufrad)-nya Shabi’ [صابئ], dari kata shaba’a – yasba’u yang artinya keluar meninggalkan satu agama ke agama yang lain. Istilah lainnya shabi’ah.

At-Thabari mengatakan,

والصابئون ، جمع صابئ ، وهو المستحدث سوى دينه دينا ، كالمرتد من أهل الإسلام عن دينه ، وكل خارج من دين كان عليه إلى آخر غيره ، تسميه العرب : صابئا

Shabiun bentuk jamak dari kata shabi’, yaitu orang yang membuat agama baru di luar agama yang dia sebelumnya. Seperti orang muslim yang murtad dari agamanya. Dan semua orang yang keluar meninggalkan agama sebelumnya lalu berpindah ke agama yang lain, disebut orang arab dengan shabi’. (Tasir at-Thabari, 2/145).

Sementara makna secara istilah, kata shabi’ digunakan untuk menyebut semua orang yang mengikuti ajaran agama baru, yang berbeda dengan agama masyarakatnya. Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebut shabi’ oleh orang musyrikin, terutama paman beliau, Abu Lahab.

Rabi’ah bin Ibad bercerita pengalamannya yang kala itu masih jahiliyah,

Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di pasar Dzi Majaz, terus mengajak masyarakat,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، تُفْلِحُوا

“Wahai manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallah… kalian akan beruntung.”

Beliau masuk ke lorong-lorong jalan. Banyak orang yang mengerumuni beliau, dan tidak ada satupun berkomentar, sementara beliau tidak henti-hentinya menyatakan,

“Wahai manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallah… kalian akan beruntung.”

Hanya saja di belakang beliau ada orang yang wajahnya sangat putih, jambulnya menjuntai – itulah Abu Lahab – dia selalu mengatakan,

إِنَّهُ صَابِئٌ، كَاذِبٌ

“Dia itu shabi’ (pembawa agama baru), pendusta.

Saya bertanya, ‘Siapa ini?’

Mereka mengatakan, “Muhammad bin Abdillah. Dia mengaku jadi nabi.”

‘Lalu siapa yang menyebutnya dusta?’ tanyaku.

“Pamannya, Abu Lahab.” Jawab mereka.

(Ahmad 16023 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut shabi’, karena beliau membawa ajaran agama baru yang tidak dikenal masyarakatnya. Meskipun sejatinya itu ajaran tauhid, millah Ibrahim ‘alaihis salam yang sudah dilupakan masyarakat Jahiliyah.

Berangkat dari makna ini, kata shabi’ bisa digunakan untuk menyebut orang yang agamanya baik dan bisa juga digunakan untuk menyebut penganut agama sesat.

Ibnul Qoyim mengatakan,

الصابئة أمة كبيرة ، فيهم السعيد والشقي ، وهي إحدى الأمم المنقسمة إلى مؤمن وكافر

Shabi’ah termasuk umat yang besar. Ada yang baik (lurus) dan ada yang celaka (menyimpang). Dan ini termasuk salah satu umat yang terbagi menjadi mukmin dan kafir.

Kemudian Ibnul Qoyim menyebutkan dalil ayat di atas. Lalu beliau mengatakan,

وهم أنواع : صابئة حنفاء ، وصابئة مشركون . وكانت حران دار مملكة هؤلاء قبل المسيح ، ولهم كتب وتآليف وعلوم ، وكان في بغداد منهم طائفة كبيرة ، منهم إبراهيم بن هلال الصابئ صاحب الرسائل ، وكان على دينهم ويصوم رمضان مع المسلمين ، وأكثرهم فلاسفة

Shabi’ah itu bermacam-macam, ada shabi’ah hanif (pengikut tauhid) dan ada shabi’ah musyrik. Dan daerah Harran merupakan tempat kerajaan mereka sebelum al-Masih. Mereka memiliki kitab, tulisan-tulisan, dan artikel. Di Baghdad ada banyak penganutnya. Diantara mereka Ibrahim bin Hilal as-Shab’i, penulis beberapa karya. Dia menganut shabi’ah, berpuasa Ramadhan seperti kaum muslimin. Dan mayoritas mereka orang-orang filsafat. (Ahkam Ahli az-Dzimmah, 1/236 – 238)

Siapakah Shabiin yang Dijamin Surga?

Pada 2 ayat di atas, yaitu al-Baqarah: 62 dan al-Maidah: 69, Allah Ta’ala menjamin, siapapun diantara shabiin yang beriman dan beramal shaleh, maka mereka masuk surga.

Ayat ini memiliki Sababun Nuzul. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu,

سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن أهل دين كنت معهم، فذكرت من صلاتهم وعبادتهم، فنزلت: {إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى والصابئين

Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para penganut agama yang dulu aku ikuti. Aku sebutkan cara shalat mereka dan ibadah mereka. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, .. di surat al-Baqarah: 62).

Karena itu, shabi’in yang dijamin surga sebelum ada Nabi, adalah mereka yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal shaleh. Sementara setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, semua manusia wajib menjadi pengikut beliau, tanpa kecuali.

Allahu berfirman,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

Akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka… (QS. Al-A’raf: 156 – 157)

Yang dimaksud sang Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim 153)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Membaca al-Quran sambil Tiduran

Bolehkah Membaca Al-Quran Sambil Tiduran?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Allah berfirman memuji orang yang rajin berdzikir dalam setiap kesempatan,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ‏

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191).


Allah juga memerintahkan kita untuk berdzikir dalam semua keadaan,


فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. an-Nisa’: 103)


فالأمر في هذا واضح، وذكر الله يشمل القرآن ويشمل أنواع الذكر من التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير، فالله -جل وعلا- وسَّع الأمر

Perintahnya dalam ayat ini sangat jelas. Dzikrullah mencakup al-Quran dan mencakup semua bentuk dzikir, baik tasbih, tahlil, tahmid, maupun takbir. Allah Ta’ala memberi kelonggaran dalam masalah dzikir. (Fatawa Ibnu Baz – http://www.binbaz.org.sa/noor/2388)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membaca al-Quran sambil berbaring. Aisyah bercerita,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَتَّكِئُ فِى حَجْرِى وَأَنَا حَائِضٌ ، ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaring di pangkuanku ketika aku sedang haid, lalu beliau membaca al-Quran. (HR. Bukhari 297 & Muslim 719)

An-Nawawi mengatakan,

فيه جواز قراءة القرآن مضطجعا ومتكئاً

Hadis ini menunjukkan bolehnya membaca al-Quran sambil tiduran dan bersadar. (Syarh Shahih Muslim, 3/211).

Allahu a’lam.

Apakah Al Quran Bebas Tafsir?



RMI Alur Cucur - Pernyataan bahwa Al Qur’an itu bebas tafsir erat kaitannya dengan bahasan at tafsir bir ra’yi (penafsiran Al Qur’an dengan opini). Karena jika Al Qur’an dikatakan bebas tafsir artinya semua orang bebas untuk memaknai dan menafsirkan Al Qur’an dengan opini mereka masing-masing dan pemahaman masing-masing yang keluar dari benak mereka. Apakah yang demikian dibenarkan?


Pengertian at tafsir bir ra’yi

At tafsir bir ra’yi artinya penafsiran seseorang dalam menjelaskan makna-makna Al Qur’an dengan suatu pemahaman khusus yang hanya berlandaskan dengan ra’yu (opini) semata 1.

Tafsir dengan semata-mata opini adalah “langganannya” orang-orang menyimpang dari ahlul bid’ah dan munafiqin. Syaikh Manna’ Al Qathan menjelaskan, “Mayoritas yang menggunakan metode ini adalah ahlul bid’ah yang meyakini keyakinan-keyakinan batil. Mereka berbuat lancang terhadap Al Qur’an dengan menafsirkannya seseuai opini mereka, dan mereka dalam hal ini tidak memiliki teladan dari para sahabat Nabi juga para tabi’in., baik dalam pendapat-pendapat mereka maupun dalam tafsir-tafsir mereka. Mereka telah menulis beberapa tafsir yang dibangun di atas pemikiran yang demikian, seperti Tafsir Abdurrahman bin Kaisan Al Asham, Tafsir Al Jubba’i, Tafsir Abdul Jabbar, Tafsir Ar Rummani, Tafsir Zamakhsyari, dan semisalnya”2.

Tafsir-tafsir yang demikian terkadang “menyihir” pembacanya dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang indah dan seolah “menyejukkan” hati yang membacanya namun di balik itu semua ada pemikiran dan keyakinan yang batil diselipkan. Disebutkan Syaikh Manna’ Al Qathan, “Diantara mereka ada yang menggunakan ungkapan-ungkapan yang indah yang menyamarkan madzhab batil mereka yang membuatnya laris di kalangan masyarakat. Sebagaimana yang dilakukan penulis tafsir Al Kasyaf dalam menyelipkan aqidah mu’tazilah di dalamnya”3.

Hukum at tafsir bir ra’yi

Menafsirkan Al Qur’an semata-mata dengan akal dan opini tanpa landasan ilmu yang benar, hukumnya haram dan terlarang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra: 36).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“barangsiapa yang berkata tentang Al Qur’an tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” 4.

Juga diriwayatkan dari Jundab bin Abdillah radhiallahu’anhu:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

“barang siapa siapa yang berkata tentang Al Qur’an sebatas dengan opininya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah” 5.

Oleh karena itu kita lihat generasi terbaik umat Islam yaitu para sahabat Nabi, para tabi’in, dan tabiut tabi’in, mereka tidak berani menafsirkan Al Qur’an jika mereka tidak tahu tafsirnya.

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu’anhu pernah ditanyai mengenai makna abban atau al abb dalam surat Abasa ayat 31: وَفَاكِهَةً وَأَبًّا, namun Abu Bakar mengatakan:

أي سماء تظلني؟ و أي أرض تقلني؟ إذا قلت في كلام الله ما لا أعلم

“Langit mana yang akan menaungiku? Bumi mana yang akan menopangku? Jika aku berkata tentang kalamullah yang aku tidak ketahui (tafsirnya)” 6.

Suatu kala Sa’id bin Musayyib ditanya mengenai tafsir sebuah ayat, beliau mengatakan:

إنا لا نقول في القران شيئا

“kami tidak (berani) beropini sedikit pun mengenai tafsir Al Qur’an” 7.

Beliau katakan demikian karena tidak tahu mengenai tafsir ayat tersebut.

Ath Thabari mengatakan: “Kabar-kabar dari para salaf ini bukti benarnya penyataan kami bahwa penafsiran ayat Al Qur’an tidak bisa diketahui ilmunya kecuali dengan penjelasan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, atau dengan adanya dalil yang mendukungnya. Tidak boleh seorang pun berkata tentang tafsirnya hanya dengan opininya. Jika kebetulan perkataannya benar, maka ia tetap salah atas perbuatannya yang berani bicara mengenai tafsir dengan semata opini. Karena perkataannya yang benar tersebut bukanlah kebenaran yang benar-benar ia yakini kebenarannya, melainkan hanya kira-kira dan sangkaan saja. Dan orang yang berbicara masalah agama dengan modal sangkaan, sama saja ia berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Dan Allah telah melarang hal itu terhadap hamba-Nya. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”(QS. Al A’raf: 33)” 8.

Dengan demikian jelaslah bahwa menafsirkan Al Qur’an dengan semata-mata akal dan opini adalah terlarang dan bukanlah teladan dari para salafus shalih.

Untuk lebih memperluas pemahaman, berikut ini kami sertakan penjelasan rinci para ulama mengenai masalah ini:


Penjelasan Dewan Fatwa IslamWeb

Mereka ditanya, “Salah seorang khatib ia memulai ceramahnya dengan menyebutkan larang bagi orang awam (yang tidak memiliki ilmu dan tidak biasa membaca kitab rujukan) untuk berdalam-dalam membahas makna Al Qur’an. Namun pernyataan tersebut diikuti dengan perkataan yang menurut saya aneh, yaitu ia mengatakan bahwa orang awam jika mengatakan sesuatu tentang Al Qur’an lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap berdosa. Artinya, jika ia salah ia berdosa, benar pun ia berdosa. Sedangkan seorang mufti yang berilmu ia mendapatkan pahala jika ia benar ataupun jika ia salah. Apakah pernyataan ini benar? Mohon penjelasannya”.

Mereka menjawab:
“Pernyataan khatib tersebut benar. Karena orang awam tidak boleh berbicara tentang Al Qur’an dengan semata-mata opininya saja, tanpa bersandar kepada kitab tafsir rujukan atau dalil. At Tirmidzi dalam Sunan-nya membuat bab: Maa Ja’a fil Ladzi Yufassirul Qur’an Bira’yihi (Bab tentang orang yang menafsirkan Al Qur’an dengan opininya). Di dalam bab tersebut beliau membawakan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’ahuma bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“barangsiapa yang berkata tentang Al Qur’an tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.

At Tirmidzi mengatakan: “hadits ini hasan shahih”.
Beliau juga mengeluarkan hadits dari Jundab bin Abdillah radhiallahu ‘anhu :


من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

“barang siapa siapa yang berkata tentang Al Qur’an sebatas dengan opininya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah”.

At Tirmidzi lalu mengatakan:

كذا روي عن بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهم أنهم شددوا في هذا في أن يفسر القرآن بغير علم

“perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari sebagian ahlul ilmi di kalangan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang selain mereka, yaitu bahwa mereka sangat keras terhadap perbuatan menafsirkan Al Qur’an tanpa ilmu”.

Penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan:

من قال في القرآن برأيه أي بغير دليل يقيني أو ظني نقلي أو عقلي مطابق للشرعي قاله القاري … (ومن قال) أي من تكلم (في القرآن) أي في معناه أو قراءته (برأيه) أي من تلقاء نفسه من غير تتبع أقوال الأئمة من أهل اللغة والعربية المطابقة للقواعد الشرعية بل بحسب ما يقتضيه عقله وهو مما يتوقف على النقل. وقوله (من قال في القرآن) أي في لفظه أو معناه (برأيه) أي بعقله المجرد (فأصاب) أي ولو صار مصيباً بحسب الاتفاق (فقد أخطأ) أي فهو مخطئ بحسب الحكم الشرعي.

“Yang dimaksud menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu (opini) adalah menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa dalil yaqini atau dalil zhanni, baik dalil naqli maupun aqli (baca: qiyas) yang sesuai dengan syari’at. Ali Al Qari menjelaskan (dalam menafsirkan hadits Ibnu Abbas): [barangsiapa yang berkata] maksudnya menjelaskan sesuatu. [dalam Al Qur’an] maksudnya mengenai makna-makna Al Qur’an dan qira’ah-nya. [dengan opininya] maksudnya dengan pandangan yang ada di benaknya tanpa berusaha mencari-cari penjelasan para ulama yang ahli bahasa Arab dan penjelasan para ulama yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariyyah. Bahkan ia hanya mencukupkan diri dengan apa yang muncul dari akalnya karena tidak ada pengetahuan tentang dalil naqli. Dan hadits [barangsiapa yang berkata tentan Al Qur’an] maksudnya tentang lafadz dan maknanya [dengan opininya] yaitu dengan akalnya semata [lalu ia benar] yaitu ia benar karena kebetulan [maka ia tetap salah] maksudnya ia tetap salah dalam tinjauan hukum syar’i”.

Ibnu Hajar menjelaskan:

اي أخطأ طريقة الاستقامة بخوضه في كتاب الله تعالى بالتخمين والحدس لتعديه بهذا الخوض مع عدم استجماعه لشروطه فكان آثماً به مطلقا ولم يعتد بموافقته للصواب لأنها ليست عن قصد ولا تحر، بخلاف من كملت فيه آلات للتفسير فإنه مأجور بخوضه فيه وإن أخطأ لأنه لا تعدي منه فكان مأجورا أجرين كما في رواية، أو عشرة أجور كما في أخرى إن أصاب، وأجر إن أخطأ كالمجتهد لأنه بذل وسعه في طلب الحق واضطره الدليل إلى ما رآه فلم يكن منه تقصير بوجه .

“Maksudnya ia telah menyalahi jalan yang lurus karena telah menafsirkan kitab Allah Ta’ala dengan menebak-nebak dan menerka maknanya, dan karena kelancangannya atas perbuatan tersebut, tanpa mengumpulkan syarat-syarat yang harus dimiliki seorang yang hendak menafsirkan Qur’an. Maka ia berdosa secara mutlak dan tidak dianggap perkataannya yang kebetulan betul karena itu hanya sekedar kebetulan dan bukan karena adanya usaha yang benar. Berbeda dengan orang yang telah terkumpul padanya syarat-syarat penafsir Qur’an, maka ia mendapatkan pahala jika menafsirkannya walaupun ia salah. Karena kesalahannya tersebut bukan karena kelancangan. Maka jika tafsirannya benar, ia mendapatkan dua pahala sebagaimana dalam suatu riwayat atau 10 pahala dalam riwayat yang lain. Dan jika tafsirannya salah, ia mendapatkan satu pahala, sebagaimana seorang mujtahid. Karena ia telah mengerahkan daya upayanya untuk mencari kebenaran dan ia telah mengolah dalil sebatas yang sesuai dengan yang mereka pahami, maka dari sisi ini pada diri mereka tidak ada sikap peremehan”.

Maka dari sini jelas bahwa seorang yang jahil tidak boleh berbicara mengenai Al Qur’an dengan semata-mata opininya. Adapun jika ia : menukil perkataan yang ia dengan dari ulama atau menukil tafsiran dari kitab rujukan yang dijadikan pegangan dalam ilmu tafsir, atau ia berbicara mengenai perkara yang dharuri (sudah dipahami umumnya orang secara gamblang) semisal ia berdalil dengan ayat Qur’an tentang wajibnya shalat, atau tentang wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar, dan perkara-perkara semisal yang secara gamblang telah diketahui semua orang, untuk sebatas berdalil bukan menafsirkan makna per maknanya maka ini semua tidak mengapa. Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma sebagaimana yang diriwayatkan oleh As Suyuthi dalam kitab Ad Durr:

تفسير القرآن على أربعة وجوه : تفسير يعلمه العلماء . وتفسير لا يعذر الناس بجهالته من حلال أو حرام . وتفسير تعرفه العرب بلغتها . وتفسير لا يعلمه إلا الله، فمن ادعى علمه فهو كاذب

“Tafsir Al Qur’an ada empat macam: [1] Tafsir yang hanya diketahui para ulama, [2] Tafsir yang semua orang tidak diberi udzur untuk mengaku tidak paham, berupa hukum halam dan haram, [3] Tafsir yang bisa diketahui oleh orang Arab dengan bahasanya, [4] Tafsir yang hanya diketahui oleh Allah, sehingga barangsiapa ada yang mengaku mengetahuinya maka ia seorang pendusta”.

Wallahu A’lam” 9.

Penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Beliau mengatakan: “bahkan sebagian orang berbuat melebihi batas dalam menafsirkan Al Qur’an yaitu dengan menafsirkannya menggunakan falsafah kontemporer dan teori-teori sains. Ini adalah sikap lancang terhadap Al Qur’an. Lalu ketika hasil tafsiran tersebut sesuai dengan pendapat mereka, merekapun menamakan fenomena tersebut dengan ‘keajaiban ilmiah’. Ini adalah kesalahan besar kerena tidak boleh menafsirkan Al Qur’an dengan falsafah dan teori-teori demikian karena semua itu senantiasa berubah-ubah dan saling mendustakan satu dengan lainnya. Sedangkan Al Qur’an itu haq, makna-makna Al Qur’an juga haq, tidak ada pertentangan di dalamnya. Dan tidak berubah makna-maknanya dengan berjalannya waktu. Adapun pemikiran-pemikiran manusia dan info-info yang mereka miliki itu terkadang benar dan terkadang salah. Bahkan salahnya lebih banyak daripada benarnya. Betapa banyak teori yang hari ini dianggap benar namun di masa depan akan didustakan (dianggap salah). Maka tidak boleh mengait-ngaitkan Al Qur’an dengan teori-teori buatan manusia dan ilmu-ilmu buatan manusia yang sifatnya masih zhan, samar, penuh keraguan dan saling bertentangan.

Ilmu tafsir Qur’an memiliki kaidah-kaidah yang dikenal di kalangan ulama syari’at. Tidak boleh melangkahi kaidah-kaidah tersebut dan tidak menafsirkan Al Qur’an dengan tafsiran yang menerapkan kaidah-kaidah tersebut. Diantara kaidah tersebut adalah:

Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Ayat-ayat yang mujmal (umum) diperinci lagi oleh ayat yang lain. Ayat-ayat yang muthlaq disebutkan secara muqayyad pada ayat yang lain.

Jika tafsir suatu ayat tidak terdapat pada ayat yang lain, maka cari penafsirannya pada sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena As Sunnah adalah penjelas Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An Nahl: 44).

Jika tafsir ayat tersebut tidak terdapat pada As Sunnah, maka cari tafsirnya dari penjelasan para Sahabat Nabi. Karena merekalah yang paling mengetahui hal tersebut, dikarenakan para sahabat lah yang membersamai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Rasulullah telah mengajarkan ilmu-ilmu kepada mereka secara langsung termasuk juga mengajarkan Al Qur’an beserta tafsirnya secara talaqqi kepada mereka. Sampai-sampai diantara mereka ada yang mengatakan:

ما كنا نتجاوز عشر آيات حتى نعرف معانيهن والعمل بهن

“kami tidak melewati 10 ayat sampai kami mengetahui makna-maknanya dan mengamalkannya”

Jika tafsir ayat tersebut tidak terdapat pada penjelasan Sahabat Nabi, maka para imam kaum Muslimin merujuk pada penjelasan para tabi’in. Karena mereka menerima pengajaran ilmu dari para sahabat Nabi. Tafsiran yang diperselisihkan oleh para tabi’in dikembalikan juga kepada kaidah-kaidah bahasa Arab yang dengannya Al Qur’an diturunkan.

Penafsiran Al Qur’an tanpa mengikuti empat kaidah di atas, tidaklah diperbolehkan. Maka menafsirkan Al Qur’an dengan teori-teori kontemporer, dengan perkataan para dokter, pakar geografi, pakar astronomi, para pakar-pakar di televisi, ini semua batil dan tidak diperbolehkan. Karena ini adalah tafsir bir ra’yi (penafsiran dengan opini) dan hukumnya haram dengan keharaman yang fatal. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

من قال في القرآن برأيه وبما لا يعلم فليتبوأ مقعدهمن النار

“barangsiapa yang berkata tentang Al Qur’an dengan opininya dan dengan tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Ibnu Jarir, At Tirmidzi dan An Nasa’i).

Dalam riwayat lain:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

“barang siapa siapa yang berkata tentang Al Qur’an sebatas dengan opininya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah”” 10.

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Beliau ditanya, “Apakah setiap orang bisa menafsirkan Al Qur’an dengan opininya? Ataukah orang-orang yang ilmunya mapan saja yang dapat melakukannya? Dan apa dalilnya?”.

Beliau menjawab:
“Benar, menafsirkan Al Qur’an dengan sekedar opini saja tidaklah diperbolehkan. Baik bagi ulama maupun yang bukan ulama. Dan barang siapa yang berkata tentang Al Qur’an dengan sekedar opininya maka siapkanlah tempat duduknya di neraka. Dan yang dimaksud at tafsir bir ra’yi (menafsirkan dengan opini) adalah memaknai makna-makna yang ada di dalam Al Qur’an dengan pandangan sendiri bukan dengan makna yang ditunjukkan oleh teks ayat. Adapun memaknai Al Qur’an dengan makna yang ditunjukkan oleh teks ayat, jika seseorang memang mampu melakukannya karena ia mengetahui bahasa Arab dan ilmu ushul fikih dan kaidah-kaidah syar’iyyah maka tidak mengapa ia menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh teks ayat. Jika ia tidak memiliki ilmu maka tidak boleh baginya untuk menafsirkan ayat karena hal ini sangat berbahaya. Karena orang yang menafsirkan Al Qur’an ia sedang menerjemahkan maksud dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hendaknya seseorang menjauhi perbuatan menerjemahkan maksud firman Allah padahal Allah tidak memaksudkan demikian. Karena ini adalah perkara yang fatal dan bahaya sekali” 11.

Kesimpulan

Menafsirkan Al Qur’an semata-mata dengan akal dan opini tanpa landasan ilmu yang benar, hukumnya haram dan terlarang melakukannya. Menafsirkan Al Qur’an yang benar adalah menafsirkannya dengan ayat Al Qur’an yang lain, jika tidak terdapat pada ayat yang lain, maka cari penafsirannya pada As Sunnah, jika tidak terdapat pada As Sunnah, maka cari tafsirnya dari penjelasan para Sahabat Nabi, jika tidak terdapat pada penjelasan sahabat Nabi, maka merujuk pada penjelasan para tabi’in, jika tabi’in berselisih maka diambil pendapat terkuat yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan kaidah tafsir.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmshalihaat.
***
____

  1. Mabahits fi Ulumil Qur’an, 351
  2. Mabahits fi Ulumil Qur’an, 351
  3. Mabahits fi Ulumil Qur’an, 351
  4. HR. At Tirmidzi 2950. Hadits ini diperslisihkan statusnya oleh para muhadditsin. At Tirmidzi berkata: “hasan shahih”. Namun yang tepat, hadits ini lemah karena terdapat perawi Abdul A’la Ats Tsa’labi yang statusnya dha’iful hadits. Hadits ini didhaifkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Dha’ifah (1783), Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad (3/341), dan para muhaqqiq lainnya. Namun hadits ini shahih secara mauquf dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu, dan dihukumi marfu’ karena isinya adalah hal yang tidak ada ruang untuk berijtihad. Sehingga hadits ini bisa digunakan untuk berhujjah. Selain itu, Syaikh Ibnu Baz dalam Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyah (8/111) mengatakan: “hadits ini terdapat kelemahan, namun maknanya benar”
  5. HR. Tirmidzi no. 2952. Hadits ini juga diperselisihkan statusnya, dihasankan oleh sebagian ulama, namun yang tepat ia adalah hadits yang lemah karena terdapat Suhail bin Abi Hazm, perawi yang lemah.Syaikh Ibnu Baz dalam Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyah (8/111) mengatakan: “mengenai derajat hadits ini ada perselisihan yang ringan, namun maknanya benar”
  6. Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, dinukil dari Mabahits fi Ulumil Qur’an, 352
  7. Diriwayatkan oleh Malik dalam Al Muwatha, dinukil dari Mabahits fi Ulumil Qur’an, 352
  8. Tafsir Ath Thabari 1/78-79, dinukil dari dinukil dari Mabahits fi Ulumil Qur’an, 352-353
  9. Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=67614
  10. Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=131224
  11. Sumber: http://islamport.com/w/ftw/Web/2190/757.htm
sumber : muslim.or.id

3 Teknik Menghafal Alquran Semudah Tersenyum Buat Balita

Dai muda yang juga penemu metode Menghafal Alquran Semudah Tersenyum, Ustaz Bobby Herwibowo mengungkapkan tiga teknik mengajar tahfidz (menghafal) Alquran buat balita (bayi di bawah lima tahun).


Pertama, ungkap Ustaz Bobby, harus menyenangkan. ”Bacakan Alquran kepada mereka dengan cinta dan senyuman. Anak kecil, khususnya balita, tidak perlu diajar baca dan tulis huruf jika itu merepotkan,” paparnya kepada Republika.co.id, Ahad (31/1) menjelaskan.

Menurut Ustaz Bobby, ajak anak-anak ikut melafalkan apa yang Anda baca dari ayat Alquran. ”Ulangi berkali-kali hinga bacaan jelas dah fasih. Bila anak sudah menguasai satu surat pendek, pindahlah ke surat berikutnya,” jelasnya menyarankan.

Ustaz Bobby mengingatkan, abaikan target hafalan dan harus fokus pada keceriaan anak. ”Jangan lupa beri hadiah bila anak bisa menghafal setengah atau satu juz. Itu dilakukan agar anak termotivasi untuk terus menghafal dan mencintai Alquran,” ujarnya.

Kedua, ungkap Ustaz Bibby, perdengarkan. Menurut dia, setiap anak balita mampu menguasai banyak bahasa yang sering ia dengar.

Contoh, meski asli anak Indonesia dari ayah dan ibu asli Indonesia namun ia terlahir di Amerika misalnya. Maka tanpa perlu belajar bahasa Inggris, insya Allah anak akan fasih berbahasa Inggris seperti orang Amerika kebanyakan.

”Mengapa demikian? Sebab ia biasa mendengar. Maka teknik agar balita bisa menghafal Alquran dengan baik adalah dengan cara memperdengarkan Alquran,” tuturnya menjelaskan.

Ustaz Bobby Herwibowo mengungkapkan, jika Anda mampu membacakan Alquran dengan benar untuk balita Anda, maka bacakanlah sesering mungkin. Namun jika bacaan Alquran Anda masih kurang baik, jangan berkecil hati.

Perdengarkanlah untuknya dari para imam dan qari dengan bacaan yang fasih seperti Mahmud Hushary dan Shiddiq Minsyawi. Perdengarkan kepada balita Anda bacaan para imam itu.

”Ulang-ulang satu surat agar akrab di telinga mereka, dan minta buah hati Anda mengikutinya. Insya Allah mereka akan mudah mengikuti bacaan Al Quran yang diperdengarkan,” kata Ustaz Bobby menjelaskan.

Ketiga, sambung Ustaz Bobby, adalah pembiasaan. ”Ulangi bacaan Alquran dalam waktu-waktu ceria anak. Seperti saat pagi usai subuh. Ketika beraktifitas dan bermain. Ba’da Ashar dan usai shalat dan mandi. Ba’da Maghrib sampai Isya. Dan menjelang tidur.”

Alumnus Universitas Al Azhar Kairo, Mesir ini, juga menyarakan agar dibiasakan Alquran tetap mengalun indah di rumah baik dari lisan Anda atau anak Anda atau dari MP3 player.

”Juga biasakan Alquran mengisi saat-saat indah keluarga seperti saat berolahraga, saat berkendara, saat bermain bersama dan banyak lagi” paparnya menambahkan.(31/1)*

Surah Yusuf dan Manfaatnya


Assalamu'alaikum, Malam Saudaraku. Kali ini Kami akan membrikan Manfaat dalam mmbaca surah Yusuf. Lngsung Saja di simak ya.


Surah Yusuf dan beberapa manfaatnya

Rasulullah saw bersabda :

“ajarkan surat yusuf pada budak-budakmu, dikarenakan seorang muslim yang membaca serta mengajarkannya pada keluarga serta budaknya, allah dapat berikan kemudahan waktu sakratul mautnya serta memberinya kemampuan supaya sebagai seoramg muslim tidak dihasud. ” ( tafsir majmu’ul bayan )

imam ja’far ash-shadiq ( sa ) berkata :
“barangsiapa yang membaca surat yusuf tiap-tiap hari serta tiap-tiap malam, ia dapat dibangkitkan pada hari kiamat keindahan berwajah layaknya keindahan yusuf, tidak ditimpa azab besar pada hari kiamat, serta ia terhitung ke didalam hamba-hamba allah yang sholeh serta pilihan. ” beliau juga menyebutkan bahwa penyataan ini juga termaktub didalam kitab taurat. ( tafsir ats-tsaqalayn 2 : 408 )

imam ali bin abi thalib ( sa ) berkata :
“janganlah anda mengajarkan surat yusuf pada isterimu ( juga anak perempuanmu ), serta jangan sampai mereka membacanya, dikarenakan didalamnya ada fitnah. sampaikan pada mereka ( isteri anak wanita ) surat an-nur, dikarenakan didalamnya ada nasehat-nasehat. ” ( tafsir ats-tsaqalayn 2 : 408 )

imam muhammad al-baqir ( sa ) berkata :
“makruh hukumnya untuk wanita pelajari surat yusuf. ” ( tafsir ats-tsaqalayn 2 : 408 )

imam ja’far ash-shadiq ( sa ) berkata bahwa anaknya ( sa ) dulu berkata : 
“demi allah, saya tidak lakukan pada beberapa anakku, mendudukkan pada pangkuanku, serta tidak dulu tentukan kasih, meskipun kebenaran ada pada seorang anakku serta beberapa yang lain menampiknya. perihal ini supaya tidak berlangsung layaknya perlakuan saudaranya pada yusuf. surat yusuf tidak diturunkan jika layaknya itu supaya beberapa kita tidak menghasud beberapa yang lain layaknya yusuf dihasud serta dizalimi oleh saudaranya…” ( tafsir ats-tsaqalayn 2 : 408 )

umumnya saran ini datang dari orang tua atau ulama tradisional yang tetap meyakini mitos-mitos. anda baiknya tahu kandungan ke-2 surat ini hingga bisa menyimpulkan kebenaran saran tersebut.
kandungan surat yusuf

surat yusuf terdiri atas 111 ayat, terhitung golongan surat-surat makkiyyah dikarenakan diturunkan di mekah sebelum saat pindah. surat ini diberi nama surat yusuf dikarenakan titik berat kandungannya menceritakan kisah nabi yusuf alaihissalam

cerita sangat menonjol didalam surat ini yaitu cerita nabi yusuf yang disingkirkan oleh saudara-saudaranya dikarenakan mereka jadi dengki atas kelebihan yusuf. yusuf diajak menggembalakan domba lantas di perjalanan mereka memasukkan yusuf ke didalam sumur. yusuf lantas ditemukan oleh seorang musafir serta di bawa ke mesir.
Surah Yusuf ayat 4

sahabat muslim, al-quran adalah di antara anugerah dari allah swt pada seluruh umat islam yang tidak ternilai harga nya. tak hanya jadi dasar hidup, tetap masih banyak sekali faedah dari al-quran untuk seluruh manusia terlebih kaum muslim.

nah, saat ini saya dapat sedikit sharing pengetahuan serta pengetahuan pada anda-anda sekalian perihal satu faedah tersembunyi didalam al-quran. di antaranya ada di surat yusuf tepatnya di ayat ke empat. apa manfaat nya ?

ayat ke empat dari surat yusuf ini insya allah dapat dapat mendatangkan jodoh untuk anda. terlebih yang telah berusia cukup untuk menikah tetapi anda belum juga diberikan jodoh oleh allah swt. maka dari itu menurut saya tak ada salahnya bila ayat ke empat dari surat yusuf ini diamalkan oleh anda.

bagaimana langkahnya ? sebelum saat nya ini yaitu ayat ke empat dari surat yusuf yang saya maksud ;

“IDZ QAALA YUUSUFU LI ABIIHI YAA ABATI INNI RA AITU AHADA’ ASYARA KAUKABAUW WASY SYAMSA WAL QAMARA RA AITUHUM LII SAJIDIN”

yang ini berarti :

( ingatlah ), saat yusuf berkata pada ayahnya : wahai ayahku, sebenarnya saya punya mimpi lihat sebelas bintang, matahari serta bln. ; kulihat seluruhnya sujud kepadaku.

tersebut disini perihal yang perlu anda cermati :

== bila dibaca 3 kali sebelum saat bersua seseoarang yang kita sayang, maka dapat menyebabkan kasih sayang kepadanya. ( nih untuk anda yang ingin jarang berantem ama pacarnya. hehe )

== untuk mendatangkan jodoh, bagaimana langkahnya ? well, its simple. tiap-tiap habis shalat fardhu, bacalah ayat ini minimal 7x. insya allah anda dapat jumpai orang yang anda nantikan ( baca : jodoh )

== bila anda pingin disayang didalam penduduk, pingin dilihat baik serta di terima di seluruh kelompok umur, bacalah ke-2 ayat ini setelah sholat sejumlah 3 kali.

manfaat serta rahasianya surat yusuf

amal kan lah ayat ini setiap selesai shalat fardhu cuma karna allah semata, insya allah.. allah dapat melimpah kan rahmat nya pada kita yang mengamal kan manfaat serta rahasia surat yusuf ini amieen ya rabbal alaamieen.

“IDZ QAALA YUUSUFU LI ABIIHI YAA ABATI INNI RA AITU AHADA’ ASYARA KAUKABAUW WASY SYAMSA WAL QAMARA RA AITUHUM LII SAJIDIN”

“ingatlah saat yusuf berkata pada ayahnya, ” wahai ayahku, sebenarnya saya punya mimpi lihat sebelas buah bintang, matahari serta bln. terlihat seluruhnya sujud kepadaku…”

lantas sambung surah thaahaa ayat 39 ? ?

“WA-ALQAYTU ‘ALAYKA MAHABBATAN MINNII WALITUSHNA’ALAA ‘AINII”

serta saya sudah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariku, serta agar anda di asuh dibawah pengawasanku. ”( qs. thaahaa :39 )

Akhirul kalam semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda semua